Jumat, 17 Apr 2026
2.217 Views
Pernah nggak sih kamu merasa sudah melakukan segala cara—menghapus foto, mematikan notifikasi, sampai menyibukkan diri—tapi bayangan mantan masih saja muncul di kepala? Tenang, kamu nggak sendirian dan kamu nggak "lebay". Ternyata, gagal move on bukan cuma soal perasaan, tapi ada penjelasan ilmiah yang terjadi di dalam otak kita.
Memahami alasan di balik sulitnya melupakan masa lalu adalah langkah awal untuk menyembuhkan diri. Yuk, kita bedah kenapa melepaskan itu butuh waktu dan bagaimana kamu bisa bangkit dengan New Energy yang lebih positif!

Menurut riset Helen Fisher, saat putus cinta, otak bagian ventral tegmental—yang mengatur rasa kecanduan—tetap aktif. Kamu merasa sulit move on karena otakmu secara biologis merindukan "dosis" dopamin yang biasanya didapat dari sang mantan. Rasanya persis seperti berusaha berhenti dari kecanduan zat tertentu.
Otak kita punya kecenderungan licik bernama euphoric recall. Kita cenderung memutar ulang memori indah dan "menyaring" semua kenangan buruk atau alasan kenapa hubungan itu gagal. Ini yang bikin kamu merasa dia adalah orang paling sempurna, padahal itu cuma filter mental saja.
Secara psikologis, otak manusia lebih terobsesi pada hal-hal yang menggantung atau belum tuntas (unfinished business). Kita memiliki kebutuhan kognitif untuk menuntaskan sebuah narasi agar bisa beralih ke informasi lain. Jika hubungan berakhir tanpa closure yang jelas, otakmu akan terus berputar di labirin yang sama untuk mencari jawaban dari pertanyaan: "Kenapa ini terjadi?",
Saat menjalin hubungan, konsep "Aku" sering kali berubah menjadi "Kita". Dalam hubungan yang serius, hobi, selera musik, bahkan cara bicara kita sering kali menyatu dengan pasangan. Saat dia pergi, kamu merasa tidak lagi mengenali siapa dirimu.
Menurut Self-Expansion Theory, kamu merasa sulit move on karena merasa kehilangan sebagian besar identitas dirimu. Kamu harus belajar lagi bagaimana caranya menjadi "Aku" yang mandiri tanpa kehadiran dia.
Oksitosin adalah hormon yang menciptakan ikatan kepercayaan dan kedekatan. Hormon ini berfungsi untuk menciptakan keterikatan fisik dan emosional yang sangat dalam.
Hormon ini nggak hilang begitu saja setelah kata "putus" terucap. Tubuhmu secara fisik masih menyimpan memori tentang rasa aman dan nyaman saat bersamanya, yang membuatmu merasa "asing" dan tidak nyaman saat sendirian.
Hormon ini berfungsi untuk menciptakan keterikatan fisik dan emosional yang sangat dalam.
Studi dari University of Michigan menemukan bahwa penolakan sosial atau putus cinta mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Otak tidak membedakan antara sakit karena patah hati dengan sakit karena kaki patah. Keduanya mengaktifkan somatosensory cortex.
Jadi, saat kamu bilang "hatiku sakit", itu bukan sekadar kiasan. Otakmu benar-benar memproses rasa sakit itu secara nyata, sehingga tubuhmu secara alami berusaha menghindari perpisahan tersebut.
Hubungan yang lama telah membentuk jalur saraf (neural pathways) yang kuat di otakmu. Dari kebiasaan berkirim pesan setiap pagi sampai tempat nongkrong favorit.
Saraf otak itu seperti jalan setapak. Jika sering dilewati, jalannya makin lebar dan mudah dilalui. Rutinitas selama bertahun-tahun sudah menciptakan "jalan tol" di otakmu.
Mengubah kebiasaan ini butuh usaha besar karena otak harus "menulis ulang" rutinitas baru, dan proses ini sering kali terasa melelahkan.
Terkadang, alasan kita sulit melepaskan bukan karena masa lalu itu terlalu indah, tapi karena masa depan terasa terlalu menakutkan.
Kenyataannya, kita bukan takut kehilangan dia, tapi takut tidak akan pernah menemukan orang sesabar atau sebaik dia lagi. Kita lebih memilih bertahan di masa lalu yang menyakitkan daripada menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Jangan terburu-buru ingin terlihat "baik-baik saja". Menangis atau merasa sedih itu manusiawi dan sangat valid. Secara psikologis, memendam emosi justru akan memperlama proses penyembuhan.
Ingat poin tentang otak yang sedang "sakau"? Cara tercepat untuk memutus kecanduan dopamin dari mantan adalah dengan tidak memberikan "dosis"-nya sama sekali.
Saat putus, sering kali kita kehilangan sebagian identitas diri. Inilah saatnya untuk membangun kembali sosok "Aku" yang mandiri dan penuh percaya diri.
Jangan biarkan euphoric recall menipumu dengan hanya mengingat momen manis. Kamu butuh pengingat logis mengapa hubungan tersebut memang tidak bisa dilanjutkan.
Alihkan rasa sedihmu menjadi sesuatu yang produktif. Gunakan waktu luang yang biasanya untuk pasangan untuk mengembangkan dirimu sendiri.
Move on adalah perjalanan, bukan sebuah tombol yang bisa ditekan sekali jalan. Ada hari di mana kamu merasa sudah menang, tapi ada hari di mana kamu kembali teringat. Itu normal. Yang terpenting adalah kamu tidak menyerah untuk terus melangkah maju.
Ingat, kamu terlalu berharga untuk tertahan di masa lalu. Jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran untuk tampil lebih bijak dan berani. Rayakan kebebasanmu, temukan kembali jati dirimu, dan jemput masa depanmu dengan penuh gaya bersama 3Second!
Sudah siap untuk ambil langkah yang positif bersama 3Second? Kamu bisa dapatkan koleksinya lewat marketplace resmi atau langsung ke store 3Second terdekat di kotamu.
Artikel ini ditulis oleh: 3Second Writer - SN
Bagikan